Kebudayaan Papua dan Nilai-nilai yang Terkandung Didalamnya

Budaya merupakan sesuatu yang mempunyai nilai-nilai penting dan fungsional serta turun temurun. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yang untuk memahami dan menginterpretasi segala tingkah laku manusia. Kebudayaan tidak bisa lepas dari manusia, karena segala tingkah laku manusia merupakan kebudayaan kali ini kita akan mebahas Kebudayaan Papua.

Papua adalah sebuah provinsi di Indonesia yang terletak di pulau Nugini bagian barat atau west New Guinea. Papua juga sering disebut sebagai Papua Barat karena Papua bisa merujuk kepada seluruh pulau Nugini termasuk belahan timur negara tetangga, east New Guinea atau Papua Nugini.

Artikel ini akan mengulas Kebudayaan Papua Menurut Academia:

  • Mengetahui wujud dan deskripsi kebudayaan Papua.
  • Mengetahui nilai-nilai yang terkandung dalam kebudayaan Papua Barat.

1. Letak geografis

Secara geografis Propinsi Papua terletak antara 130°-141° BT dan 2°25′ LU – 9° LS. Batas-batas wilayah provinsi Papua, sebelah Utara berbatasan dengan Samudera Fasifik, sebelah Selatan berbatasan dengan Laut Arafura, sebelah Barat berbatasan dengan Provinsi Papua Barat, dan sebelah Timur berbatasan dengan Papua New Guinea.

Secara fisik, Papua merupakan Propinsi terluas di Indonesia, dengan luas daratan 21,9% dari total tanah seluruh Indonesia yaitu 421.981 km², membujur dari barat ke timur (Sorong-Jayapura) sepanjang 1,200 km (744 mile) dan dari utara ke selatan (Jayapura- Merauke) sepanjang 736 km (456 mile).

Selain tanah yang luas, Papua juga memiliki banyak pulau yang berjejer disepanjang pesisirnya. Propinsi Papua terdiri dari 28 kabupaten,1 kota, 389 kecamatan, 3.619 Kelurahan/Desa.

BACA JGA:

2. Sistem upacara keagamaan

Upacara perkawinan dalam budaya Asmat pada umumnya anak sudah diatur oleh kedua orangtuanya. Mahar dikumpulkan oleh keluarga pengantin laki-laki, kemudian diserahkan kepada keluarga pengantin putri dan ada kemungkinan mahar tersebut dibagi-bagikan kepada saudara-saudara pengantin putri. Dalam masyarakat yang mengikuti patriakhat ini mengenal 3 macam perkawinan yang direncanakan, yaitu:

  • Perkawinan Tinis yang daiwali dengan lamaran dilakukan wakil pihak keluarga wanita. Melalui perkawinan seorang suami memperoleh hak atas daerah sagu dan daerah ikan milik orang tua pengantin wanita.
  • Perkawinan Persem, perkawinan yang terjadi sebagai kelanjutan hubungan rahasia antara pria dan wanita, yang kemudian diakui secara sah oleh kedua orang tua kedua belah pihak.
  • Perkawinan mbeter, perkawinan yang didahului seorang pria
    melarikan seorang gadis untk dikawin.

3. Sistem bahasa

Di Papua ini terdapat ratusan bahasa daerah yang berkembang pada kelompok etnik yang ada. Aneka pelbagai bahasa ini telah menyebabkan kesulitan dalam berkomunikasi antara satu kelompok etnik dengan kelompok etnik lainnya. Oleh sebab itu, Bahasa Indonesia digunakan secara rasmi oleh masyarakat-masyarakat di Papua bahkan hingga ke pedalaman.

4. Sistem Kemasyarakatan dan Organisasi Sosial Kebudayaan Papua

Pada daerah-daerah Papua yang bervariasi topografinya terdapat ratusan kelompok etnik dengan budaya dan adat istiadat yang saling berbeda. Dengan mengacu pada perbedaan topografi dan adat istiadatnya maka secara alamnya. Pada umumnya masyarakat Papua hidup dalam sistem kekerabatan yang menganut garis ayah atau patrilineal

Kelompok asli di Papua terdiri atas 255 suku dengan bahasa yang masing-masing berbeda. Beberapa contoh suku tersebut yakni suku
Aitinyo, Arfak, Asmat, Agast, Ayamaru, Empur, Mandacan, Biak, Arni, Sentani, Waropen, Tobati dan lain-lain. Tribal arts yang indah dan telah terkenal di dunia dibuat oleh suku Asmat, Ka moro, Dani, dan Sentani.

Dalam perilaku sosial terdapat suatu falsafah masyarakat yang sangat unik, misalnya seperti yang ditunjukan oleh budaya suku Komoro di Kabupaten Mimika, yang membuat genderang dengan menggunakan darah. Suku Dani di Kabupaten Jayawijaya yang gemar melakukan perang-perangan, yang dalam bahasa Dani disebut Win. Budaya ini merupakan warisan turun-temurun dan di jadikan festival budaya lembah Baliem. Ada juga rumah tradisional Honai, yang didalamnya terdapat mummy yang di awetkan dengan ramuan tradisional. Terdapat tiga mummy di Wamena; Mummy Aikima berusia 350 tahun, mummy Jiwika 300 tahun, dan mummy Pumo berusia 250 tahun.

5. Sistem Ekonomi dan Mata Pencaharian Kebudayaan Papua

Penduduk Papua dapat di bedakan menjadi kelompok besar yaitu:

  • Kelompok Penduduk daerah pantai dan kepulauan dengan ciri-ciri umum, rumah diatas tiang (rumah panggung), mata pencaharian menokok sagu dan menangkap ikan.
  • Penduduk daerah pedalaman yang hidup pada daerah sungai, rawa, danau dan lembah serta kaki gunung. Pada umumnya bermata pencaharian menangkap ikan, berburu dan mengumpulkan hasil hutan.
  • Juga Penduduk daerah dataran tinggi dengan mata pencaharian berkebun beternak secara sederhana.
  • Suku yang tidak termasuk pengggolongan diatas disekitar teluk Humboldt hidup dari perikanan, sedangkan pertaniannya merupakan pertanian campuran ubi dan sagu.

6. Sistem Pengetahuan

Sagu adalah makanan khas Indonesia timur yang berasal dari
tepung dan berasal dari batang pohon Sagu. Makanan karbohidrat ini mempunyai fungsi yang sama dengan nasi atau gandum yang menjadi makanan pokok Indonesia secara umum. Keberadaan sagu begitu penting bagi masyarakat Papua, termasuk suku Asmat yang mendiami wilayah pesisir selatan pulau Papua. Makanan ini seperti sumber kehidupan bagi sebagian besar warga dan sangat dibutuhkan dalam menunjang kehidupan harian mereka. Karena hal inilah, maka masyarakat Asmat pun mempunyai sebuah ritual yang berkaitan dengan keberadaan sagu sebagai makanan pokok mereka.

7. Sistem Peralatan Hidup dan Teknologi Kebudayaan Papua

a. Alat transportasi

Alat transportasi suku asmat papua
Alat transportasi suku asmat papua (img via sukuasmatumsida.blogspot.co.uk, desain by kampretnews)

Suku Asmat mengenal perahu lesung sebagai alat transportasinya. Pembuatan perahu dahulunya digunakan untuk persiapan suatu penyerangan dan pengayauan kepala. Bila telah selesai, perahu tersebut dicoba menuju ke tempat musuh dengan maksud memanas-manasi musuh dan memancing suasana musuh agar siap berperang. Selain itu, perahu lesung juga digunakan untuk keperluan pengangkutan dan pencarian bahan makanan.

Setiap 5 tahun sekali, orang-orang Asmat membuat perahuperahu baru. Walaupun daerah Asmat kaya akan berbagai jenis kayu, namun pembuatan perahu mereka memilih jenis kayu khusus yang jumlahnya tidak begitu banyak. Yang digunakan adalah kayu kuning (ti), ketapang, bitanggur atau sejenis kayu susu yang disebut yerak.

b. Senjata tradisional

Senjata tradisional dari provinsi Papua adalah belati tulang, perisai perang, panah dan senjata kapak batu.11 Kapak batu biasa digunakan oleh masyarakat Suku Asmat sebagai alat untuk menebang pohon dan membantu mereka dalam proses pembuatan sagu. Lebih dari sekadar senjata, kapak batu bagi Suku Asmat merupakan benda yang mewah, mengingat cara pembuatannya yang rumit dan bahan baku batu nefrit yang sulit ditemukan. Bahkan, karena dianggap sangat berharga, kapak batu oleh masyarakat Suku Asmat sering dijadikan mahar dalam suatu pernikahan.

c. Rumah adat

Contoh rumah adat yang dapat kita jumpai di Papua adalah :

  • Rumah Honai biasanya ditempati oleh suku Dani.
  • dan Rumah Kariwari dihuni suku Tobati
rumah honai papua
rumah honai papua

Rumah Adat Honai adalah rumah adat Papua yang terbuat dari kayu dengan atap berbentuk kerucut yang terbuat dari jerami atau ilalang. Honai dibangun sempit dan tidak berjendela untuk menahan hawa dingin pegunungan papua masuk ke dalam rumah.

Honai biasanya dibangun setinggi 2,5 meter dan pada bagian tengah rumah disiapkan tempat untuk membuat api unggun untuk menghangatkan diri. Rumah Honai terbagi dalam 3 tipe, yaitu untuk kaum laki-laki (disebut Honai), wanita (disebut Ebei) dan untuk kandang babi (disebut warnai).

d. Pakaian adat

  • Kaum pria mengenakan pakaian adat berupa hiasan kepala, rompi, celana berumbai dan hiasan kalung yang terbuat dari gigi, tulang hewan, serta kerang.
  • Kaum wanitanya memakai tutup kepala yang dihiasi bulu cendrawasih, pakaian berumbai dan rok berumbai. Tidak lupa memakai kalung dari kerang, gigi binatang dan hiasan kaki.

8. Sistem Kesenian

NOKEN khas papua
Kerajinan NOKEN khas papua (gambar via solopos/ img desain by kampretnews)

Noken, tas multifungsi yang dirajut dari serat kayu dan dibawa dengan mengaitkan bagian atasnya di kepala. Noken menjadi salah satu warisan budaya tak benda khas Papua.

Tari yang terdapat di daerah Papua antara lain : Tari Kikaro, Doyo Lama, Ahokoy, Jiriw, Selamat Datang, Musyoh, Wor Dan Cendrawasih.

Alat musik Tifa yang memiliki bentuk seperti ggendang dan cara memainkannya adalah dengan dipukul. Tifa terbuat dari sebatang kayu yang isinya dikosongkan. Tifa digunakan untuk mengiringi instrumen musik tradisional dan tarian tradisional.

Lagu Daerah Papua sama seperti daerah Papua Barat, yaitu Apuse
dan Yamko Rambe Yamko.

Akhir Kata dari Kebudayaan Papua

Demikian yang dapat kami informasikan terkait Kebudayaan Papua dan Nilai-nilai yang Terkandung Didalamnya, jika ada kesalahan atau koreksi jangan sungkan tinggalkan komentar agar kami bisa memperbaikinya.

Follow IG:kampret.news

Sumber:

academia. edu/36010587/KEBUDAYAAN_PAPUA_DAN_NILAI-NILAI_YANG_TERKANDUNG_DIDALAMNYA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *