Suku Toraja : Sejarah, Asal-Usul, Karakter dan Kebudayaan

Suku Toraja : Sejarah, Asal-Usul, Karakter dan Kebudayaan – Sulawesi Selatan memiliki empat kelompok etnis utama yaitu suku Bugis, suku Makassar, suku Mandar, dan suku Toraja. Ke empat suku tersebut memiliki cirri khas yang berbeda seperti penjelasan Suku Toraja, Sejarah, Asal-Usul, Karakter dan Kebudayaan berikut ini.

A. Sejarah dan Asal-Usul

Menurut beberapa sumber kata toraja berasal dari bahasa Bugis yaitu to riaja, yang berarti “orang yang berdiam di negeri atas”. Suku ini adalah suku yang penduduknya menetap di pegunungan bagian utara Provinsi Sulawesi Selatan. Agama yang dianut oleh mayoritas penduduk suku Toraja adalah Kristen, dan sebagian penduduknya beragama Islam.

Tetapi ada juga yang menganut ajaran animisme yang biasa disebut Aluk To Dolo. Pemerintah Indonesia telah mengakui keyakinan ini dan menganggap keyakinan ini sebagai agama Hindu Dharma.

Ketika Indonesia dikuasai oleh Kolonial Belanda yaitu pada tahun 1909. Kolonial Belanda menyebut suku ini sebagai Suku Toraja. Sebelum abad ke 20, suku ini sama sekali belum tersentuh oleh dunia luar dan masih menganut keyakinan animisme. Saat itu suku ini masih tinggal di desa-desa otonom. Kedatangan Belanda di awal tahun 1900an memiliki tujuan untuk menyebarkan agama Kristen.

BACA JUGA:

  1. Ritual Ma’Nene Tradisi Unik Warisan Leluhur Toraja
  2. Kearifan Lokal Suku Toraja Dan Tradisi Uniknya, Yuk Kepoin
  3. Tradisi Meletakkan Mayat Di Atas Tanah Trunyan, Bali

Seiring berjalannya waktu suku ini semakin terbuka terhadap dunia luar yaitu pada tahun 1970an. Setelah itu Tana Toraja menjadi lambang pariwisata Indonesia. Sejak tahun 1990an masyarakat Toraja mengalami transformasi budaya. Masyarakat Toraja yang tadinya menganut keyakinan animisme sekarang sudah berganti menjadi masyarakat beragama Kristen.

B. Karakter Suku Toraja

Toraja memiliki karakter yang kuat seperti budaya dan adat istiadat nya yang sudah tersohor hingga Internasional.

1. Bahasa Suku Toraja

  • Sa’dan Toraja
  • Kalumpang
  • Mamasa
  • Tae
  • Talondo

Bahasa sehari-hari suku Toraja adalah Sa’dan Toraja dan menjadi dialek utama. Bahasa Toraja memiliki berbagai ragam, yaitu Kalumpang, Mamasa, Tae’ , Talondo’ , Toala’, dan Toraja Sa’dan. Ciri-ciri khas dari bahasa suku Toraja yaitu gagasan tentang kematian dan duka cita. Bahasa Toraja digunakan sebagai sebuah media ekspresi duka cita dan ditujukan untuk mengurangi penderitaan akibat duka yang diderita. Bahasa Toraja juga masuk ke dalam kurikulum sekolah dasar di Tana Toraja.

2. Kepercayaan Suku Toraja

  • Kristen
  • Islam
  • Hindu dharma

Suku Toraja secara mayoritasnya menganut kepercayaan Kristen. Sebagian lainnya menganut agama Islam dan kepercayaan animisme politeistik yang bernama Aluk To Dolo yang telah diakui oleh pemerintah Indonesia sebagai bagian dari agama Hindu Dharma. Aluk To Dolo diartikan sebagai jalan atau hukum bagi suku Toraja. Dikisahkan dalam mitos di suku Toraja bahwa leluhur suku Toraja berasal dari surga.

Leluhur Suku Toraja turun ke bumi dengan menggunakan tangga, lalu tangga tersebut digunakan oleh suku Toraja sebagai media untuk berhubungan dengan Puang Matua sang dewa pencipta. Dewa lain dalam suku Toraja antara lain Pong Banggai di Rante (dewa bumi), Indo’ Belo Tumbang (dewi pengobatan), Indo’ Ongon-Ongon (dewi gempa bumi), dan Pong Lalondong (dewa kematian).

3. Filosofis Hidup Suku Toraja

Tallu Lolona

Suku Toraja memiliki falsafah hidup yang disebut Tallu lolona. Tallu lolona berarti tiga kehidupan yang meliputi kehidupan manusia, kehidupan hewan, dan kehidupan lingkungan. Suku Toraja sangat menjaga hubungan harmonis dengan sesama makhluk dan hubungan harmonis dengan Yang Maha Kuasa.

Tau

Selain itu, suku Toraja juga mempunyai filosofis hidup lain yang disebut tau. Tau merupakan empat pilar utama dalam kehidupan yang menjadi pedoman bagi suku Toraja. Empat pilar tersebut adalah sugi’ (kaya), barani (berani), manarang (pintar) dan kinawa  yang bermakna berhati mulia. Seorang dari suku Toraja dapat disebut sebagai tau, apabila mengamalkan keempat pilar tersebut.

4. Kelas Sosial Suku Toraja

  • Bangsawan
  • Orang Biasa
  • Budak

Kelas sosial dalam suku Toraja dibagi menjadi 3 tingkatan, yaitu bangsawan, orang biasa, dan budak. Berbeda dengan suku bangsa di Pulau Jawa yang menganut adat patrilineal, suku Toraja menganut adat matrilineal yang mengatur kelas sosial berdasarkan keturunan ibu. Adat di suku Toraja tidak memperbolehkan seorang laki-laki untuk menikahi perempuan dari kelas sosial yang lebih rendah, namun laki-laki dari suku Toraja diizinkan untuk menikahi perempuan dari kelas sosial yang lebih tinggi. Hal ini dilakukan agar laki-laki dapat meningkatkan kelas sosial pada keturunannya.

C. Kebudayaan Suku Toraja

1. Upacara-Rambu-Solo

1.1 Tujuan Upacara Rambu Solo

Rambu Solo adalah sebuah upacara adat kematian masyarakat Tana Toraja. Upacara tersebut mempunyai tujuan dimana digunakan untuk menghormati dan mengantarkan arwah orang yang sudah meninggal dunia menuju alam roh. Memiliki arti bahwa orang yang sudah meninggal akan kembali pada keabadian bersama para leluhur mereka di sebuah tempat peristirahatan.

1.2 Arti Upacara Rambu Solo

Upacara ini juga sering dikenal sebagai upacara penyempurnaan kematian. Hal ini dikarenakan orang yang meninggal baru bisa dianggap benar-benar meninggal, jika setelah seluruh prosesi upacara ini dilengkapi. Jika belum, maka orang yang meninggal tersebut hanya dianggap sebagai orang sakit atau lemah, sehingga ia tetap diperlakukan seperti halnya orang hidup, yaitu dibaringkan di tempat tidur dan diberi hidangan makanan dan minuman bahkan selalu diajak berbicara.

1.3. Puncak Upacara Rambu Solo

Puncak dari upacara Rambu solo adalah dilaksanakan disebuah lapangan khusus upacara. Dalam upacara ini terdapat beberapa rangkaian ritual, seperti proses pembungkusan jenazah, pembubuhan ornament dari benang emas dan perak pada peti jenazah, penurunan jenazah ke lumbung untuk disemayamkan, dan proses pengusungan jenazah ke tempat peristirahatan terakhir.

3. Kesenian Sejarah Suku Toraja

Tanah toraja adalah salah satu daerah yang terkenal akan ukirannya dan kesenian ini menjadi kesenian khas suku bangsa Toraja di Sulawesi Selatan. Ukiran dibuat menggunakan alat ukir khusus di atas sebuah papan kayu, tiang rumah adat, jendela, atau pintu.

Bukan sembarangan ukiran, setiap motif ukiran dari Tana Toraja mempunyai nama dan makna khusus. Kerapian, keteraturan serta ketertiban adalah ciri umum dalam ukiran kayu Toraja. Selain Kerapian, keteraturan serta ketertiban, ukiran Tana Toraja juga memiliki sifat abstrak dan geometris. Ornament Toraja sering menjadikan Tumbuhan dan hewan sebagai dasar ornament.

D. Pakaian Adat Suku Toraja

Toraja memiliki pakaian adat khusus pria dan wanita berikut penjelasannya.

pakaian adat sejarah suku toraja
pakaian adat sejarah suku toraja (img via skyscanner.co.id)

1. Pakaian Adat Pria

Untuk Pakaian adat pria Toraja sering dikenal dengan Seppa Tallung Buku. Pakaian ini berupa celana yang mempunyai panjang sampai di lutut. Pakaian ini masih dilengkapi dengan asesoris lain, seperti kandaure, lipa’, gayang dan sebagainya.

2. Pakaian Adat Wanita

Baju adat Toraja disebut Baju Pokko’ untuk wanita. Baju Pokko’ berupa baju dengan lengan yang pendek. Warna yang paling sering mendominasi pada pakaian adat Toraja adalah warna kuning, merah, dan putih. Baju adat Kandore yaitu baju adat Toraja yang berhiaskan Manik-manik yang menjadi penghias dada, gelang, ikat kepala dan ikat pinggang.

E. Warisan

Suku Toraja adalah salah satu suku di Negara Indonesia yang mempunyai keunikan yang beragam dalam setiap adat istiadatnya. Tentu saja, dengan adanya beragam keunikan yang dimiliki, Suku Toraja pasti memiliki warisan yang turun-temurun. Warisan dari suku Toraja diantaranya :

1. Rumah Adat

Tongkonan merupakan Rumah adat Toraja yang memiliki keunikan dalam bentuk dan juga fungsinya. Rumah Tongkonan suku Toraja digunakan untuk menyimpan jasad anggota keluarga.

Komponen dari rumah adat Toraja Tongkonan secara umum sama seperti kebanyakan rumah adat tradisional di Indonesia yang lain yaitu terbuat dari kayu. Rumah Tongkonan biasanya terbuat dari kayu uru. Kayu uru adalah salah satu kayu yang kuat. Rumah adat Tongkonan suku Toraja ini sama sekali tidak menggunakan unsur besi pada proses pembangunannya. Dari sini bisa diketahui, bahwa dalam pembangunan rumah adat ini sama sekali tidak menggunakan paku.

Pada bagian atap, Rumah Tongkonan ini terbuat dari bambu dengan memiliki bentuk yang unik. Dimana bentuk tersebut menyerupai seperti pe

Rumah Tongkonan Toraja
Rumah Tongkonan Toraja

rahu, bentuk ini memiliki arti yang sangat pengting yaitu sebagai pengingat bahwa pada jaman dahulu nenek moyang Tana Toraja menyeberangi Sulawesi dengan menggunakan perahu.

Selain digunakan sebagai tempat berlindung, rumah ini juga menggambarkan tentang status sosial masyarakat Toraja. Dimana bagi Anda yang berkunjung ke Tana Toraja, maka akan sering dijumpai banyak kepala kerbau beserta tanduknya yang dipajang pada tiang utama di setiap Rumah Tongkonan. Semakin tinggi status sosial keluarga tersebut di kalangan masyarakat, maka akan semakin banyak pula tanduk kerbau yang dipasang pada tiang utama Rumah Tongkonan.

Pada setiap warna yang terlukis disetiap dindingnya mempunyai arti masing-masing. Rumah adat Tongkonan mempunyai 4 warna dasar penghias rumah yang memiliki makna tersendiri :

  • Warna Merah yang melambangkan darah yang artinya kehidupan manusia.
  • Warna Kuning melambangkan anugerah dan kekuasaan dari Tuhan.
  • Sedangkan warna putih menggambarkan warna daging dan juga tulang yang artinya suci bersih.
  • Warna terakhir warna hitam melambangkan kematian dan kegelapan.

Tongkonan ini mempunyai 3 bagian rumah yaitu meliputi bagian utara, bagian tengah, dan yang terakhir adalah bagian selatan. Selain sebagai tempat untuk berlindung atau tidur Rumah Adat Tongkonan ini juga dianggap sebagai Ibu bagi masyarakat suku Toraja.

Bagian Utara

Biasa disebut dengan bagian “Tengolak”, Anda akan mendapati ruang tamu, tempat tidur untuk anak-anak, serta sebagai tempat untuk menaruh sesaji. Ketika Anda bertamu ke Rumah Tongkonan ruangan pertama yang akan Anda masuki adalah bagian Tengolak ini.

Ruang Selatan

Ruangan “Sumbung” atau ruang Selatan merupakan ruangan untuk kepala keluarga. Kepala keluarga adalah seorang pemimpin dalam sebuah keluarga yang memiliki peran penting dan sangat dihormati. Segala aktivitas atau aturan dalam keluarga, seorang kepala keluarga memiliki andil yang besar dalam hal ini.

Ruangan Tengah

Ruangan Rumah Tongkonan pada bagian tengah atau yang biasa disebut dengan “Sali”. Anda akan menjumpai jasad anggota keluarga yang telah meninggal pada ruangan ini.

Selain itu Sali juga berfungsi sebagai ruang makan, dapur, serta ruang pertemuan keluarga. Uniknya anggota keluarga yang masih hidup tidak takut dengan adanya jasad dari anggota keluarga yang telah meninggal.

Akhir kata dan penutup

Demikianlah ulasan mengenai sejarah suku toraja, Asal-Usul, Karakter dan Kebudayaan yang bisa kami sampaikan. Dengan mempelajari kebudayaan suku toraja, kita bisa lebih mengenal keragaman suku yang ada. Semoga bermanfaat.

Folow IG:Kampretnews

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *