Tradisi Unik dan Budaya Suku Jawa, Yuk Kepoin

Tradisi Unik dan Budaya Suku Jawa – Orang jawa pada umumnya sangat menjunjung tinggi keseimbangan, keserasian dan keselarasan hidup baik terhadap sesama manusia maupun dengan lingkungan alam.

Dalam etika keseharian sangat mengedepankan norma kesopanan, kesantunan dan kesederhanaan. Untuk lebih jelasnya, inilah beberapa hal yang menunjukkan budaya suku jawa dan juga tradisi uniknya :

1. Filosofis Hidup

Ada beberapa filosofis dasar yang setidaknya menggambarkan perilaku budaya suku Jawa, yaitu :

  1. Urip iku urup, (hidup itu menyala), maknanya adalah bahwa hidup sebagai manusia haruslah memiliki manfaat bagi manusia lain dan lingkungan alam sekitar.
  2. Ojo Keminter Mengko Keblinger, Ojo Cidro Mundak Ciloko, (jangan merasa yang paling pandai agar tidak salah arah dan jangan berbuat curang agar tidak celaka), artinya hidup haruslah rendah hati dan selalu sportif.

2. Ajaran Kejawen

Ajaran kejawen pada dasarnya merupakan kumpulan dari seni, budaya, adat ritual, sikap sosial, serta berbagai pandangan filosofi masyarakat Jawa. Bagi masyarakat Jawa yang masih memegang teguh ajaran asli kejawen ini,  menjadi nilai spiritualitas tersendiri. Masyarakat Jawa banyak memiliki kitab kejawen yang disadur dari kitab-kitab karya para Mpu pada masa kerajaan Jawa.

3. Wayang Kulit

Berasal dari kata ‘ayang-ayang’ yang artinya adalah. Wayang kulit Jawa memiliki perbedaan dengan wayang golek Sunda. Cerita pewayangan bagi suku Jawa selalu menggambarkan bentuk kehidupan manusia di dunia, tentang peperangan terhadap angkara murka dan perjuangan untuk membangun kebaikan.

Selain memiliki unsur kesenian, wayang kulit juga dipercaya oleh orang Jawa memiliki nilai magis tersendiri. Pagelaran wayang kulit dipercaya mampu mendatangkan kekuatan-kekuatan magis dari arwah leluhur ataupun kekuatan magis yang berasal dari Tuhan. Maka dari itu pagelaran wayang kulit menjadi media utama ketika orang Jawa melakukan ruwatan.

4. Keris

Merupakan senjata tradisional suku Jawa. Keris juga menjadi lambang kedaulatan dari beberapa raja-raja di kerajaan luar Jawa. Keris bagi orang Jawa merupakan senjata pusaka yang diyakini oleh sebagian orang memiliki atau menyimpan kesaktian. Oleh sebab itu keris disebut juga sebagai ‘tosan aji’ (alat yang memiliki kesaktian).

Sebagai ‘tosan aji’, keris begitu sangat dipercayai kesaktiannya karena proses pembuatannya yang dilakukan oleh para Mpu (sebutan bagi pembuat keris) senantiasa diiringi dengan laku spiritualitas seperti puasa dan bertapa. Selain itu, para Mpu juga memasukkan berbagai mantra dan do’a pada keris yang dibuatnya. Bahkan jumlah ‘luk’ (lekukan) yang ada pada keris menyimpan makna kesaktian yang tersembunyi.

5. AKsara Jawa

Suku  Jawa juga memiliki huruf tulisan yang disebut dengan aksara Jawa. Aksara Jawa terdiri dari 20 karakter huruf yang menyimpan makna dan filosofi masing-masing. Huruf-huruf tersebut adalah Ha Na Ca Ra Ka Da Ta Sa Wa La Pa Dha Ja Ya Nya Ma Ga Ba Tha Nga. Asal usul munculnya aksara Jawa memiliki banyak versi sejarah dan legenda. Tetapi yang paling terkenal di kalangan masyarakat Jawa adalah cerita babad Ajisaka.  Berikut ini arti dari huruf aksara jawa dalam cerita babad Ajisaka :

  • HaNaCaRaKa : terdapat dua utusan setia
  • DaTaSaWaLa : saling berkelahi/bertarung
  • PaDaJaYaNya : sama-sama saktinya
  • MaGaBaThaNga : sama-sama matinya.

6. Bahasa Suku Jawa

Bahasa Jawa merupakan salah satu bahasa yang memiliki tingkatan bahasa. Orang Jawa sangat menjunjung tinggi etika kesopanan dan kesantunan termasuk juga dalam hal berbahasa. Dalam bahasa Jawa dikenal yang namanya undhak-undhuk atau tata krama di dalam bertutur kata. Berikut terdapat tiga struktur tingkatan bahasa yang ada dalam bahasa Jawa, meliputi :

  • Ngoko, bahasa ngoko merupakan bahasa yang digunakan apabila orang yang diajak bicara sebaya umurnya atau kerabat yang sudah dekat dan akrab. Secara khusus juga digunakan oleh orang yang lebih tua kepada orang yang lebih muda.
  • Madya, bahasa madya merupakan bahasa yang digunakan apabila lawan bicara umurnya lebih tua atau sekadar penghormatan kepada orang yang sama kurang dikenal.
  • Krama, bahasa krama merupakan tingkatan tertinggi dalam bahasa Jawa. Digunakan untuk berbicara kepada orang yang yang lebih tua atau dituakan, serta kepada orang yang memiliki status sosial tinggi di masyarakat.

7. Seni Tarian

Orang Jawa dikenal sebagai masyarakat yang berbudaya. Bahkan antara orang Jawa di Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat, memiliki tarian khasnya masing-masing. Keterikatan seni tari suku Jawa terletak pada tata tari yang luwes, kalem dan santun. Menggambarkan filosofis hidup suku Jawa yang cenderung menerima, selalu adaptif dengan segala situas dan kondisi serta mengutamakan tata krama.

BACA JUGA:

Kesenian tari seperti reog, tari sintren, tari kuda lumping, merupakan contoh kesenian tari yang sangat kental dengan kekuatan supranatural. Di lingkungan keraton Jogjakarta dikenal tari ‘bedhaya ketawang’ yang sangat disakralkan oleh orang Jawa yang ada disana. Karena hal ini berkaitan dengan kepercayaan bahwa tari bedhaya ketawang ini sengaja diciptakan oleh Nyi Roro Kidul penguasa laut selatan sebagai suatu bentuk suguhan bagi  penguasa Kerajaan keraton Jogja penguasa tanah Jawa.

8. Seni Musik Suku Jawa

Alat musik tradisional Jawa disebut dengan gamelan, merupakan gabungan dari beberapa alat musik pukul seperti gong, kendang, saron, bonang, kenong, demung, slenthem, gambang serta kempul. Gamelan biasa digunakan untuk mengiringi kesenian tari atau kesenian suara yang biasa disebut dengan karawitan.

Gamelan juga biasa digunakan sebagai pengiring pagelaran wayang kulit.

Pada zaman dahulu alat musik gamelan biasa dijadikan media dakwah para walisongo. Alat musik gamelan ini juga dikenal di beberapa suku bangsa yang lain seperti yang ada pada kebudayaan Sunda, dan juga kebudayaan Suku Banjar yang ada di luar Jawa .

9. Tradisi Unik Suku Jawa

Selain itu terdapat juga beberapa tradisi unik lainnya yang dari dulu hingga sekarang masih dilakukan dan telah menjadi ciri khas dari suku jawa.

9.1. Tingkepan (mitoni)

Tingkepan atau dapat juga disebut dengan mitoni dilakukan pada saat seseorang perempuan hamil telah memasuki usia kehamilan sekitar 7 bulan. Rangkaian acara yang dilakukan pada saat prosesi tingkepan yaitu mandi dengan air kembang setaman. Kemudian akan di doakan ileh para sesepuh agar bayinya selamat hingga proses persalinan selesai. Upacara tingkepan ini nyatanya masih dilestarikan oleh kalangan jawa dimanapun mereka berada.

9.2. Grebeg Tradisi Unik dan Budaya Suku Jawa

Tradisi atau upacara yang dilakukan ketika bulan Mulud dinamakan dengan tradisi atau upacara grebeg. Anda pasti pernah mennyaksikan acara ini di daerah Solo dan Yogyakarta yang sangat dikenal dengan sebutan muludan. upacara grebeg ini tidak hanya dilakukan pada bulan Mulud saja, melainkan tanggal 1 Syawal dan bulan ke-12 juga dilakukan tradisi tersebut. Tujuan dari upacara grebeg yaitu sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas limpahan rahmat dan karunia-Nya.

9.3. Upacara sekaten Tradisi Unik dan Budaya Suku Jawa

Salah satu bentuk rasa hormat orang jawa kepada Nabi Muhammad SAW yang telah menyebarkan agama Islam di tanah Jawa adalah upacara sekaten. Upacara ini menjadi wujud peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW yang digelas selama 7 hari. Anda dapat menemukan tradisi ini yang masih dilestarika di wilayah kerajaan, seperti Solo dan Yogyakarta. Uniknya pada saat dilakukan upacara sekaten, pihak keratin di Surakarta akan mengeluarkan dua jenis gamelan, yaitu gamelan Kyai Gunturmadu dan Guntursari.

9.4. Kenduren Tradisi Unik dan Budaya Suku Jawa

Sesaji merupakan seperangkat persembahan yang diidentikkan dengan upacara kenduren atau yang lebih dikenal dengan selametan. Upacara kenduren adalah hasil dari akulturasi budaya jawa dan agama islam pada abad ke-16 M.pada awalnya upacara kenduren memakai doa-doa agama hindu atau budha, namun setelah mengalami alkulturasi, maka digantikand engan doa-doa islam.

Umumnya manakan upacara kenduren hanya ditujukan untuk makan bersama sebagai ucapan rasa syukur dan bukan lagi untuk persembahan seperti budaya kejawen zaman dulu.

9.5. Ruwatan Tradisi Unik dan Budaya Suku Jawa

Adalah acara yang dilakukan orang jawa terhadap anak tunggal atau anak-anak kelahiran tertentu untuk menghilangkan kesialan. Sebagai contoh tradisi ruwatan yang masih tetap dilestarikan di Dataran Tinggi Dieng untuk anak berambut gimbal.

9.6. Adat dalam perkawinan

Rangkaian upacara perkawinan masyarakat suku jawa dikenal sangat sacral, dan hingga saat ini masih dilestarikan. Deretan upacara tersebut, yaitu siraman, ngerik, midodareni, srah-srahan, nyantri, panggih, balangan suruh, dan lain sebagainya.

9.7. Tedhak siten Tradisi Unik dan Budaya Suku Jawa

Acara ini dilakukan ketika seorang bayi telah berumur 7-8 bulan, yang sudah mulai belajar berjalan. Acara tedah siten dilakukan untuk mengungkapkan rasa syukur karena Tuhan telah memberikan kesehatan dan kesempurnaan fisik pada anak-anaknya.

10. Kalender Jawa

Kalender ini merupakan penanggalan yang digunakan oleh Kesultanan Mataram. Ketika mulai berkembangnya agma Islam di tanah Jawa, Sultan Agung memutuskan untuk meninggalkan Kalender Saka lalu menggantinya dengan Kalender Hijriah dengan penyesuaian budaya Jawa. Kalender Jawa dibuat dengan perpaduan antara budaya Islam, budaya Hindu-Budha, dan budaya Eropa.

Dalam kalender Jawa, siklus harian yang dipakai ada dua macam, yaitu siklus mingguan yang terdiri dari 7 hari seperti yang sekarang kita kenal (Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jum’at, Sabtu, dan Minggu) serta siklus minggu pancawara yang terdiri dari 5 hari pasaran (Manis, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon). Untuk hitungan bulan, Kalender Jawa juga memiliki 12 bulan, yakni Sura, Supar, Mulud, Bakda Mulud, Jumadil Awal, Jumadil Akhir, Rajab, Ruwah, Pasa, Sawal, Sela, dan Besar.

11. Kearifan Lokal Suku Jawa

Adalah suatu bentuk kearifan lingkungan yang terdapat dalam kehidupan bermasyarakat pada suatu tempat atau daerah. Kearifan lokal dapat juga diartikan sebagai tata nilai atau perilaku hidup suatu masyarakat lokal dalam berinteraksi dengan lingkungan tempatnya tinggal. Seperti halnya kearifan lokal yang dimiliki oleh suku jawa yang dari dulu hingga sekarang beberapa masih tetap berlaku. Maka dari itu, kearifan lokal ini tidaklah sama pada tempat dan waktu berbeda serta suku yang berbeda pula. Salah satu penyebab perbedaan tersebut karena tantangan alam dan kebutuhan hidup pada setiap daerah serta suku berbeda.

11.1. Contoh Kearifan Lokal

Sebagai salah satu contoh kearifan yang saat ini tetap berlaku dan digunakan oleh beberapa suku, adat dan budaya penduduk Indonesia adalah suku jawa. Mengingat bahwa Indonesia merupakan Negara kepulauan yang mempunyai banyak suku, etnis, dan kepercayaan. Jadi, tidak hewan apabila mulai dari ujung barat hingga ujung timur Indonesia mempunyai beragam tradisi unik yang berbeda pada setiap daerah begitu pula dengan kearifan lokalnya. Tradisi-tradisi tersebut dari dulu hingga saat ini masih tetap dijaga, sehingga anak cucu dari kita masih dapat menikmatinya. Tidak hanya itu tradisi dan juga adat istiadat ini pastinya dapat membanggakan kita sebagai orang Indonesia. Hal ini karena tradisi-tradisi unik hanya dapat ditemukan di tanah air kita saja.

Seperti yang telah kita ketahui bahwa suku jawa adalah suku terbesar yang telah mendiami wilayah Indonesia sejak dulu. Keberadaan suku jawa tidak hanya menetap di pulau jawa saja, melainkan juga tersebar merata di seluruh nusantara. Suku ini sangat terkenal dengan keramahtamahan serta kehalusannya. Tidak hanya itu, adat istiadat yang dimiliki oleh suku jawa sangat banyak dan beragam. Sehingga sampai saat ini masyarakat jawa masih mempercayai beberapa mitos dan legenda leluhur. Berikut ini Kearifan Lokal Suku Jawa Dan Tradisi Uniknya yang mungkin beberapa diantaranya telah kita ketahui.

11.2. Ragam Kearifan Lokal Suku Jawa

  1. Orang jawa melakukan upacara wiwitan sebelum melakukan panen padi. Sehingga terdapat kebiasaan untuk memilih benih padi yang lebh unggul buatannya sendiri sebelum melakukan pemanenan yang akan diperjualbelikan atau di konsumsi.  Menyiapkan benih unggul ini sangat penting dilakukan untuk keberlanjutan usaha tani.
  2. Di desa-desa dulunya selalu terdapat tempat yang disebut dengan punden. Punden merupakan hutan lebat yang disampingnya terdapat makam. Segala jenis tanaman yang tumbuh di daerah punden tersebut tidak boleh diganggu atau dijabut keberadaannya kecuali untuk tujuan dilestarikan atau dikembangkan. Pada umumnya punden memberikan  manfaat pada kelestarian sumber air.
  3. Orang jawa menantang agar tidak membakar tanaman kelor. Setelah dilakukan penelitian ternyata membakar tanaman ini dapat menyebabkan tanaman kelor tersebut kehilangan unsur hara penyubur daun.
  4. Mitos tentang hewan keramat. Suku jawa juga memperlakukan beberapa hewan sebagai hewan keramat yang tidak boleh diganggu keberadaannya. Seperti misalnya binatang ular, kucing, burung gagak, burung hantu, dan beberapa hewan lainnya. Contoh mitos Dewi Sri, yang menjelma menjadi ular sawah yang membawa keberkahan serta kesuburan dari sawah tersebut. Apabila dilihat dari sisi ilmu pengetahuan alam, adanya ular sawah tersebut dapat membantu petani dalam mengendalikan hama sawah terutama tikus.
  5. Adanya sesajen disetiap beberapa acara tertentu yang merupakan seperangkat persembahan yang dipakai untuk menghormati penunggu disetiap tempat-tempat tertentu, seperti tempat muara sungai, pohon besar, dan lain sebagainya. Pohon yang diberi sesajen akan menghalangi seseorang untuk menebang pohon tersebut, sehingga kelestarian lingkungan tetap akan terjaga.
  6. Mitos hari baik. Beberapa orang jawa juga mengenal hari baik, yang mana pada hari tersebut seseorang dapat melakukan kegiatannya. Misalnya dalam proses pemanenan padi dan hajatan pernikahan atau lainnya akan menentukan hari baik terlebih dahulu.

Akhir Kata dan Penutup Tradisi Unik dan Budaya Suku Jawa

Itulah penjelasan tentang Tradisi Unik dan Budaya Suku Jawa. Setiap suku memang memiliki tradisi unik yang perlu kita ketahui salah satunya adalah suku jawa ini.

Semoga penjelasan tersebut dpat memeberikan manfaat dan jika menurut anda informasi ini penting untuk di bagikan jangan sungkan bagikan keteman sekitar anda agar mereka juga mengetahui.

Jika ada kesalahan dalam penulisan mohon input nya untuk memperbaiki demi kemajuan dan kelancaran kedepannya. Silahkan tinggalkan komentar apabila ada yang ingin ditanyakan demi terjaganya budaya dan tradisi yang ada di Indonesia ini hingga generasi ke generasi.

Follow IG:kampretnews

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *